Vol. 1 No. 1 (2026): June -- Issue in Progress
Issue in Progress pada CITA INSIGHT: Journal of Counseling and Educational Dynamic merupakan diseminasi bagi naskah-naskah yang telah dinyatakan diterima (accepted) melalui proses peninjauan sejawat (peer review) yang rigor dan telah menyelesaikan tahap produksi final. Kebijakan ini merupakan upaya jurnal dalam mempercepat resonansi inovasi riset di bidang konseling dan pendidikan, sehingga temuan-temuan krusial dapat segera diakses oleh para praktisi dan akademisi tanpa harus menunggu siklus terbitan Juni atau Desember. Naskah akan tetap berada dalam status ini hingga secara administratif diintegrasikan ke dalam volume dan nomor isu reguler tanpa mengubah substansi ilmiah maupun identitas digitalnya.
Articles
-
DOI: -Published Online: 28-02-2026
OPEN ACCESS|429 views|249 downloads|page 1-13AbstractPendahuluan: Penelitian ini menganalisis integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam konseling lintas budaya dengan menyoroti empat dimensi utama: tantangan etik, rekonstruksi identitas profesional, dinamika akses dan relasi empatik, serta tata kelola human-centered dalam konteks masyarakat global.
Metode: Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain narrative literature review berparadigma interpretatif, di mana 35 artikel ilmiah yang dipilih secara purposif dianalisis menggunakan analisis tematik enam tahap Braun dan Clarke untuk menghasilkan sintesis konseptual yang sistematis.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI berpotensi meningkatkan akses, personalisasi layanan, dan efisiensi praktik konseling, namun juga menghadirkan risiko bias algoritmik, pelanggaran privasi, dan reduksi dimensi empatik. Transformasi digital mendorong pergeseran peran konselor menuju model augmentatif berbasis data dengan tetap mempertahankan otoritas manusia dalam pengambilan keputusan, sementara perluasan layanan berbasis AI sangat dipengaruhi oleh kesenjangan infrastruktur dan sensitivitas budaya sehingga tidak otomatis menjamin keadilan akses.
Simpulan: Temuan ini menegaskan bahwa tata kelola human-centered menjadi prasyarat untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan martabat manusia, serta mengonseptualisasikan integrasi AI sebagai konfigurasi sosioteknik yang menuntut keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab sosial.
APA Citation StyleIsnaini, A. R. N. (2026). AI dalam Konseling Lintas Budaya: Tantangan Etik, Adaptasi Profesional, dan Dinamika Layanan di Masyarakat Global. CITA INSIGHT: Journal of Counseling and Educational Dynamic, 1(1), 1-13. https://journal.citacendekia.com/cijced/article/view/3 -
Dilemma of Artificial Intelligence Adoption in Educational Settings
Fellyanus Haba Ora, Universitas Nusa Lontar RoteMorrison Hendrik Riwu Kore, Universitas Nusa Lontar RoteJefirstson R Riwu Kore, Universitas Indo Global MandiriDOI: -Published Online: 01-03-2026
OPEN ACCESS|209 views|134 downloads|page 14-32AbstractIntroduction: The rapid integration of artificial intelligence (AI) in education presents both opportunities and challenges. AI offers personalized learning pathways, automated assessments, and enhanced accessibility, yet its unregulated adoption raises concerns regarding human cognitive dependence, academic integrity, data privacy, and ethical use. This research aims to examine the dilemmas surrounding artificial intelligence use in education by considering its implications for human intelligence, ethics, and regulation to encourage responsible AI adoption.
Method: This study employs a qualitative literature review. The literature search was conducted on peer-reviewed journal articles, policy documents, and global survey reports published between 2021 and 2025, retrieved from reputable academic databases and institutional publications. The collected sources were analyzed using thematic and narrative analysis to identify recurring patterns related to the benefits, risks, ethical issues, and regulatory dimensions of AI adoption in education. Secondary data from global surveys, policy reports, and scholarly studies were synthesized to explore the benefits and risks of AI adoption.
Results: Findings reveal that AI can augment human intelligence and learning efficiency, but overreliance may undermine critical thinking, creativity, and moral development. Effective integration requires AI literacy, institutional guidelines, and regulatory frameworks to ensure ethical, responsible, and equitable use.
Conclusion: Educational stakeholders must therefore balance technological advantages with human-centered ethics and regulatory compliance to foster sustainable AI adoption.
APA Citation StyleHaba Ora, F. , Riwu Kore, M. H. , & Riwu Kore, J. R. (2026). Dilemma of Artificial Intelligence Adoption in Educational Settings. CITA INSIGHT: Journal of Counseling and Educational Dynamic, 1(1), 14-32. https://journal.citacendekia.com/cijced/article/view/1 -
Teknik Sosiodrama Melalui Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Perilaku Prososial Siswa Pasca-Pandemi
Galuh Ayu Pramudita, State University of MalangArbin Janu Setiyowati, State University of MalangYuliati Hotifah, State University of MalangDOI: -Published Online: 10-04-2026
OPEN ACCESS|86 views|52 downloads|page 33-47AbstractPendahuluan: Perkembangan pasca pandemi membawa dampak pada menurunya kualitas interaksi sosial remaja, yang sering kali ditandai dengan munculnya perilaku antisosial serta memudarnya rasa empati di lingkungan sekitarnya. Di sisi lain, keterampilan prososial yakni tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa pamrih merupakan aspek krusial yang harus dimiliki individu sebagai makhluk sosial. Tujuan penelitian ini adalah mensintesis efektivitas bimbingan kelompok teknik sosiodrama dalam meningkatkan perilaku prososial siswa, merespons degradasi keterampilan sosial di era digital pasca-pandemi.
Metode: Tinjauan ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Pencarian literatur dilakukan pada database Google Scholar, SINTA, dan Scopus. Kriteria inklusi mencakup artikel jurnal empiris peer-reviewed (2016-2026), subjek siswa SMP-SMA/SMK, dan intervensi sosiodrama pada variabel prososial. Kriteria eksklusi meliputi studi non-empiris, jenjang usia dini/dewasa, dan instrumen ukur yang tidak valid.
Hasil: Sintesis terhadap tujuh artikel utama mengonfirmasi bahwa sosiodrama memberikan efek signifikan terhadap peningkatan perilaku prososial. Analisis komparatif menunjukkan divergensi efektivitas: pada siswa SMP, teknik ini secara efektif menginternalisasi empati dasar dan mereduksi agresi verbal; sedangkan pada jenjang SMA/SMK, teknik ini secara superior memfasilitasi komunikasi interpersonal kompleks, asertivitas sosial, dan resolusi konflik teman sebaya. Pemberian ruang bagi siswa untuk bermain peran mengeksplorasi tokoh tertentu terbukti efektif dalam memecahkan masalah sosial, yang secara konsisten berkontribusi pada peningkatan signifikan terhadap perilaku prososial siswa.
Simpulan: Layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan perilaku prososial pada siswa. Intervensi ini memberikan struktur yang terarah bagi siswa untuk berlatih menumbuhkan empati, berinteraksi secara positif, dan menginternalisasi nilai-nilai kepedulian sosial untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Sosiodrama adalah instrumen terapeutik yang relevan untuk merestorasi perilaku prososial remaja. Peneliti selanjutnya disarankan merancang studi longitudinal dan model “sosiodrama hibrida”, sementara praktisi konseling perlu mengintegrasikan teknik ini ke dalam program intrakurikuler wajib.
APA Citation StylePramudita, G. A. , Setiyowati, A. J. , & Hotifah, Y. (2026). Teknik Sosiodrama Melalui Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Perilaku Prososial Siswa Pasca-Pandemi. CITA INSIGHT: Journal of Counseling and Educational Dynamic, 1(1), 33-47. https://journal.citacendekia.com/cijced/article/view/9 -
Inisiatif Berbicara pada Perspektif Bystander Bullying dalam Pendidikan
Moch. Syihabudin Nuha, State University of MalangMuslihati Muslihati, State University of MalangDiniy Hidayatur Rahman, State University of MalangErfan Nawawi, State University of MalangM. Khoirudin Jalil, State University of MalangDOI: -Published Online: 10-04-2026
OPEN ACCESS|187 views|122 downloads|page 48-66AbstractPendahuluan: Bullying telah menjadi fenomena yang berjalan sistematis dan keberlangsungannya bergantung pada peran saksi atau bystander. Intervensi melalui teknik sosiodrama dianggap kurang spesifik dalam mengajarkan keterampilan perilaku baru. Sebagai alternatif, variabel inisiatif berbicara menawarkan kerangka kerja yang lebih operasional bagi saksi untuk melakukan tindakan defensif, konfrontatif dan pelaporan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah variabel inisiatif bicara dari aspek kerangka konseptual, teori pendukung, instrumen pengukuran hingga efektifitas studi terdahulu dalam konteks bullying.
Metode: Kajian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis pada artikel jurnal rentang tahun 2022-2026. Pencarian literatur melalui database Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan SINTA dengan menggunakan kata kunci spesifik seperti bystander, speak up initiative, student voice, speaking up.
Hasil: Temuan menunjukkan bahwa speak up initiative merupakan manifestasi proaktif yang lebih berorientasi pada perubahan sistemik dibandingkan perilaku asertif yang cenderung reaktif. Terdapat lima instrumen utama yang diidentifikasi, yaitu SBBS, BTS, HCW-SUB, SUPS, dan PMCQ, yang mengukur dimensi keberanian moral hingga perilaku pembela.
Simpulan: Speak up initiative merupakan pendekatan strategis bagi remaja untuk bertransformasi dari bystander pasif menjadi upstander aktif melalui tindakan pembelaan, konfrontasi, dan pelaporan. Efektivitas inisiatif ini sangat bergantung pada dukungan lingkungan sekolah, jaminan anonimitas pelaporan, serta respons cepat otoritas untuk mengatasi norma "diam" di lingkungan pendidikan.
APA Citation StyleNuha, M. S. , Muslihati, M. , Rahman, D. H. , Nawawi, E. , & Jalil, M. K. (2026). Inisiatif Berbicara pada Perspektif Bystander Bullying dalam Pendidikan. CITA INSIGHT: Journal of Counseling and Educational Dynamic, 1(1), 48-66. https://journal.citacendekia.com/cijced/article/view/8